Social Icons

Pages

Sunday, December 1, 2013

pndidikan karakter

penerbit: ridzal eko sopi'i. dkk

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Dampak globalisasi yang terjadi saat ini membawa masyarakat Indonesia melupakan pendidikan karakter. Padahal pendidikan karakter merupakan suatu pondasi bangsa yang sangat penting dan perlu ditanamankan sejak dini kepada anak-anak. Dunia pendidikan telah memberikan porsi yang sangat besar untuk pengetahuan, tetapi melupakan tujuan utama pendidikan, yaitu mengembangkan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan secara simultan dan seimbang. Terpuruknya bangsa Indonesia dewasa ini tidak hanya disebabkan oleh krisis ekonomi, melainkan juga krisis akhlak yang berakar dari kurangnya penanaman pendidikan karakter.
Sistem pendidikan di Indonesia secara umum masih dititikberatkan pada kecerdasan kognitif.  Hal  ini  dapat  dilihat  dari  orientasi  sekolah-sekolah  yang  ada  masih disibukkan  dengan  ujian,  mulai  dari  ujian  mid,  ujian  akhir  hingga  ujian  nasional. Ditambah  latihan-latihan  soal  harian  dan  pekerjaan  rumah  untuk  memecahkan pertanyaan di buku pelajaran yang biasanya tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari para siswa. Saatnya  para  pengambil  kebijakan,  para  pendidik,  orang  tua  dan  masyarakat senantiasa memperkaya  persepsi bahwa ukuran  keberhasilan tidak hanya  dilihat dari prestasi  angka.  Hendaknya  institusi  sekolah  menjadi  tempat  yang  senantiasa menciptakan pengalaman bagi siswa untuk membangun dan membentuk karakter unggul, karena mengingat pentingnya pendidikan karakter demi kemajuan suatu bangsa.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian pendidikan karakter?
2.      Apa saja nilai-nilai pendidikan karakter?
3.      Bagaimana sejarah pemunculan pendidikan karakter?
4.      Apa ciri dasar pendidikan karakter?
5.      Apa prinsip pendidikan karakter?

6.      Apa tujuan dari pendidikan karakter?
7.      Apa pentingnya pendidikan karakter?

1.3  Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui pengertian pendidikan karakter.
2.      Mengetahui nilai-nilai pendidikan karakter.
3.      Mengetahui bagaimana sejarah pemunculan pendidikan karakter.
4.      Mengetahui ciri dasar pendidikan karakter.
5.      Mengetahui prinsip pendidikan karakter.
6.      Mengetahui tujuan dari pendidikan karakter.
7.      Megetahui pentingnya pendidikan karakter.





















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pendidikan Karakter
Pengertian pendidikan karakter menurut para ahli:
1.    Pendidikan Karakter Menurut Thomas Lickona
Thomas Lickona menyatakan bahwa pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan dan melakukan nila-nilai etika yang inti.
2.    Pendidikan Karakter Menurut Suyanto
Suyanto (2009) mendefisinisiakn karakter sebagai cara berpikir dan perilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekrjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara.
3.    Pendidikan karekter menurut kertajaya
Karakter adalah ciri khas yang meiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan mesin yang mendorong bagaimana seseorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu.
4.    Pendidikan karakter menurut kamus psikologi
Menurut kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang dan biasannya berkaitan dengan sifat-sifat yang relative tetap.

2.2 Nilai-Nilai Pendidikan Karakter
Ada delapan belas butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.
a.    Religius
     Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
b.      Jujur
     Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
c.       Toleransi
     Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
d.    Disiplin
     Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
e.    Kerja Keras
     Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
f.     Kreatif
     Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
g.    Mandiri
     Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
h.    Demokratis
     Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
i.      Rasa Ingin Tahu
     Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
j.      Semangat Kebangsaan
     Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
k.    Cinta Tanah Air
     Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
l.      Menghargai Prestasi
     Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
m.    Bersahabat/Komunikatif
     Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
n.    Cinta Damai
     Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
o.    Gemar Membaca
     Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
p.    Peduli Lingkungan
          Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
q.    Peduli Sosial
     Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
r.     Tanggung Jawab
     Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.


2.3 Sejarah Pemunculan Pendidikan Karakter
Istilah karakter dipakai secara khusus dalam konteks pendidikan baru muncul pada akhir abad ke 18, dan untuk pertama kalinya dicetuskan oleh pedadog Jerman F.W.Foerster. Terminologi ini mengacu pada sebuah pendekatan idealis spiritualis dalam pendidikan juga dikenal dengan teori pendidikan normatif. Yang menjadi prioritas adalah nilai-nilai transenden yang dipercaya sebagai motor penggerak sejarah, baik bagi individu maupun bagi sebuah perubahan sosial.
Namun, sebenarnya pendidikan karakter telah lama terjadi bagian inti sejarah baik pendidikan itu sendiri. Misalnya, dalam cita-cita Paideia Yunani dan Humanitas Romawi. Pendekatan idealis dalam masyarakat modern memuncak dalam ide tentang kesadaran Roh Hegelian. Perkembangan ini pada gilirannya mungukuhkan dialektika sebagai sebuah bagian integral dari pendekatan pendidikan karakter.
Lahirnya pendidikan karakter bisa dikatakan sebagai sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme yang di pelopori oleh filsuf Prancis Auguste Comte. Forester menolak gagasan yang meredusir pengalaman manusia pada sekadar bentuk murni hidup alamiah.
Dalam sejarah perkembanggannya memang manusia tunduk pada hukum-hukum alami, namun kebebasan yang dimiliki manusia memungkinkan dia menghayati kebebasan dan pertumbuhannya mengatasi sekadar tuntutan fisik dan psikis semata. Manusia tidak semata-mata taat pada aturan alamiah. Melainkan kebebasan itu dihayati dalam tata aturan yang sifatnya mengatasi individu, dalam tata aturan nilai-nilai moral. Pedoman nilai merupakan kriteria yang menentukan kualitas tindakan manusia di dunia.
Dinamika pemahaman pendidikan karakter berproses melalui tiga momen: momen historis, momen reflektif, dan momen praktis. Momen historis, yaitu usaha merefleksikakan pengalaman manusia yang bergulat dalam menghidupi konsep dan praksis pendidikan khususnya dalam jatuh bangun mengembangkan pendidikan karakter bagi anak didik sesuai dengan konteks zamannya. Momen reflektif, sebuah momen yang melalui pemahaman intelektualnya manusia mencoba mendefinisikan pengalamnnya, mencoba melihat persoalan metodologis, filosofis, dan prinsispil yang berlaku bagi pendidikan karakter. Momen praktis, yaitu dengan bekal pemahaman teoritis-konseptual itu, manusia mencoba menemukan secara efektif agar proyek pendidikan karakter dapat efektif terlaksana dilaksanakan (Koesoma, 2007:308).

2.4 Ciri Dasar Pendidikan Karakter
Menururt Foerster, pencetus pendidikan karakter dan pedagog Jerman, ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter. Pertama, keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. Kedua, koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi  baru atau takut resiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibiltas seseorang. Ketiga, otonomi. Di situ sesorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilhat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain. Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.
Kematangan keempat karakter ini memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. Orang-orang modern sering mencampur adukkan antara individualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara indepedensi eksterior dan interior. Karater inilah yang menentukan seorang pribadi dalam segala tindakannya (Foerster).

2.5 Prinsip Pendidikan Karakter
Di Indonesia, pendidikan karakter bangsa sebenarnya telah berlangsung lama, jauh sebelum Indonesia merdeka. Ki Hajar Dewantara sebagai Pahlawan Pendidikan Nasional memiliki pandangan tentang pendidikan karakter sebagai asas Taman Siswa 1922, dengan tujuh prinsip sebagai berikut :
1.      Hak seseorang untuk mengatur  diri sendiri dengan tujuan tertibnya persatuan dalam kehidupan umum.
2.      Pengajaran berarti mendidik anak agar merdeka batinnya, pikirannya, dan tenaganya.
3.      Pendidikan harus selaras dengan kehidupan.
4.      Kultur sendiri yang selaras dengan kodrat harus dapat memberi kedamaian hidup.
5.      Harus bekerja menurut kekuatan sendiri.
6.      Perlu hidup dengan berdiri sendiri.
7.      Dengan tidak terikat, lahir batin dipersiapkan untuk memberikan pelayanan kepada peserta didik.
Lickona dkk (2007) menemukan sebelas prinsip agar pendidikan karakter dapat berjalan efektif. Kesebelas prinsip tersebut sebagai berikut.
1.        Kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai kinerja pendukungnya sebagai fondasi karakter yang baik.
2.        Defisinikan karakter secara komprehensif yang mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku.
3.        Gunakan pendekatan yang komprehensif, disengaja, dan proaktif dalam pengembangan karakter.
4.        Ciptakan komunitas sekolah yang penuh perhatian.
5.        Beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan moral.
6.        Buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang yang menghormati semua peserta didik, mengembangkan karakter, dan membantu siswa untuk berhasil.
7.        Usahakan mendorong motivasi dari siswa.
8.        Libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan moral yang berbagi tanggung jawab dalam pendidikan karakter dan upaya untuk mematuhi nilai-nilai inti yang sama yang membimbing pendidikan siswa.
9.        Tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral dan dukungan jangka panjang bagi inisiatif pendidikan karakter.
10.    Libatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter.
11.    Evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidik karakter dan sejauah mana siswa memanifestasikan karakter yang baik.

2.6 Tujuan Pendidikan Karakter
Tujuan Pendidikan Karakter adalah untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi, serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.
Pada tingkat institusi pendidikan karakter mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktekkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas.

2.7 Pentingnya Pendidikan Karakter
Karakter bangsa merupakan aspek penting dari kulitas sumber daya manusia karena kualitas karakter bangsa menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Menurut Freud kegagalan penanaman kepribadia yang baik di usia dini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak. Kesuksesan orang tua membimbing anaknya dalam mengatasi konflik kepribadian di usia dini sangat menentukan kesuksesan anak dalam kehidupan sosial di masa dewasanya kelak (Erikson, 1968).
Pembentukan karakter  harus dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan yang melibatkan aspek “knowledge, feeling, loving, dan action”. Pembentukan karakter dapat diibaratkan sebagai pembentukan seseorang menjadi body builder (binaragawan) yang memerlukan latihan otot-otot akhlak secara terus-menerus agar menjadi kokoh dan kuat. Sebab, pada dasarnya, anak yang berkarakter rendah adalah anak yang tingkat perkembangan emosi-sosialnya rendah sehingga anak beresiko atau berpotensi besar mengalami kesulitan dalam belajar, berinteraksi sosial, dan tidak mampu mengontrol diri. Mengingat pentingnya penanaman karakter di usia dini dan mengingat usia prasekolah merupakan masa persiapan untuk sekolah yang sesungguhnya maka penanaman karakter yang baik di usia prasekolah merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan.
Thomas Lickona mendefinisikan orang yang berkarakter sebagai sifat alami seseorang dalam merespon situasi secara bermoral, yang dimanefastikan dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain, dan karakter mulia lainnya.
Menurut Berkowitz (1998), kebiasan berbuat baik tidak selalu menjamin bahwa manusia yang telah terbiasa tersebut secara sadar (cognition) menghargai pentingnya nilai-nilai karakter (valuing). Misalnya, seseorang yang terbiasa berkata jujur karena takut mendapatkan hukuman maka bisa saja ia tidak mengerti akan tingginya nilai moral dari kejujuran itu sendiri. Oleh karena itu, pendidikan karakter memerlukan juga aspek emosi. Menurut Lickona (1991), komponen ini disebut “desiring the good” atau keinginan untuk berbuat baik.










BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan dan melakukan nila-nilai etika yang inti (Lickona). Ada delapan belas butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Tujuan Pendidikan Karakter adalah untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang.

3.2 Saran
            Sebaiknya  institusi  pendidikan  menjadi  tempat  yang  senantiasa menciptakan pengalaman bagi siswa untuk membangun dan membentuk karakter unggul, karena mengingat pentingnya pendidikan karakter demi kemajuan suatu bangsa.












DAFTAR RUJUKAN

Aar. 2011. 18 Nilai dalam Pendidikan Karakter Bangsa, (Online), (http://www.rumahinspirasi.com/18-nilai-dalam-pendidikan-karakter-bangsa), diakses 1 Oktober 2013.
Haryanto. 2012. Pengertian Pendidikan Karakter, (Online), (http://www.belajarpsikologi.com/pengertian-pendidikan-karakter), diakses 1 Oktober 2013.
Mulyasa, H.E. 2012. Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: Bumi Aksara.
Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara.












 

Sample text

Sample Text

Sample Text