BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dampak globalisasi yang terjadi
saat ini membawa masyarakat Indonesia melupakan pendidikan karakter. Padahal
pendidikan karakter merupakan suatu pondasi bangsa yang sangat penting dan
perlu ditanamankan sejak dini kepada anak-anak. Dunia pendidikan telah
memberikan porsi yang sangat besar untuk pengetahuan, tetapi melupakan tujuan
utama pendidikan, yaitu mengembangkan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan
secara simultan dan seimbang. Terpuruknya bangsa Indonesia dewasa ini tidak
hanya disebabkan oleh krisis ekonomi, melainkan juga krisis akhlak yang berakar
dari kurangnya penanaman pendidikan karakter.
Sistem
pendidikan di Indonesia secara umum masih dititikberatkan pada kecerdasan kognitif. Hal
ini dapat dilihat
dari orientasi sekolah-sekolah yang
ada masih disibukkan dengan
ujian, mulai dari
ujian mid, ujian
akhir hingga ujian
nasional. Ditambah
latihan-latihan soal harian
dan pekerjaan rumah
untuk memecahkan pertanyaan di
buku pelajaran yang biasanya tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari para
siswa. Saatnya para pengambil
kebijakan, para pendidik,
orang tua dan
masyarakat senantiasa memperkaya
persepsi bahwa ukuran
keberhasilan tidak hanya dilihat
dari prestasi angka. Hendaknya
institusi sekolah menjadi
tempat yang senantiasa menciptakan pengalaman bagi siswa
untuk membangun dan membentuk karakter unggul, karena mengingat pentingnya
pendidikan karakter demi kemajuan suatu bangsa.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pendidikan karakter?
2. Apa saja nilai-nilai pendidikan
karakter?
3. Bagaimana sejarah pemunculan
pendidikan karakter?
4. Apa ciri dasar pendidikan
karakter?
5. Apa prinsip pendidikan karakter?
6. Apa tujuan dari pendidikan
karakter?
7. Apa pentingnya pendidikan
karakter?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengertian pendidikan
karakter.
2. Mengetahui nilai-nilai pendidikan
karakter.
3. Mengetahui bagaimana sejarah
pemunculan pendidikan karakter.
4. Mengetahui ciri dasar pendidikan
karakter.
5. Mengetahui prinsip pendidikan
karakter.
6. Mengetahui tujuan dari pendidikan
karakter.
7.
Megetahui
pentingnya pendidikan karakter.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Pendidikan Karakter
Pengertian
pendidikan karakter menurut para ahli:
1.
Pendidikan
Karakter Menurut Thomas Lickona
Thomas
Lickona menyatakan bahwa pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja
untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan dan
melakukan nila-nilai etika yang inti.
2.
Pendidikan
Karakter Menurut Suyanto
Suyanto
(2009) mendefisinisiakn karakter sebagai cara berpikir dan perilaku yang
menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekrjasama, baik dalam lingkup
keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara.
3.
Pendidikan
karekter menurut kertajaya
Karakter
adalah ciri khas yang meiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas
tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu
tersebut, serta merupakan mesin yang mendorong bagaimana seseorang bertindak,
bersikap, berucap, dan merespon sesuatu.
4.
Pendidikan
karakter menurut kamus psikologi
Menurut
kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis
atau moral, misalnya kejujuran seseorang dan biasannya berkaitan dengan
sifat-sifat yang relative tetap.
2.2 Nilai-Nilai
Pendidikan Karakter
Ada
delapan belas butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu religius, jujur,
toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin
tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat
atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial,
dan tanggung jawab.
a.
Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
b.
Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
c.
Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
d.
Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
e.
Kerja Keras
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
f.
Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
g.
Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
h.
Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
i.
Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
j.
Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
k.
Cinta Tanah Air
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
l.
Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
m.
Bersahabat/Komunikatif
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
n.
Cinta Damai
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
o.
Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
p.
Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya
mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan
upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
q.
Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
r.
Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
2.3 Sejarah
Pemunculan Pendidikan Karakter
Istilah karakter dipakai secara
khusus dalam konteks pendidikan baru muncul pada akhir abad ke 18, dan untuk
pertama kalinya dicetuskan oleh pedadog Jerman F.W.Foerster. Terminologi ini
mengacu pada sebuah pendekatan idealis spiritualis dalam pendidikan juga
dikenal dengan teori pendidikan normatif. Yang menjadi prioritas adalah
nilai-nilai transenden yang dipercaya sebagai motor penggerak sejarah, baik
bagi individu maupun bagi sebuah perubahan sosial.
Namun, sebenarnya pendidikan
karakter telah lama terjadi bagian inti sejarah baik pendidikan itu sendiri.
Misalnya, dalam cita-cita Paideia Yunani dan Humanitas Romawi. Pendekatan
idealis dalam masyarakat modern memuncak dalam ide tentang kesadaran Roh
Hegelian. Perkembangan ini pada gilirannya mungukuhkan dialektika sebagai sebuah
bagian integral dari pendekatan pendidikan karakter.
Lahirnya pendidikan karakter bisa
dikatakan sebagai sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal
spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme yang di pelopori
oleh filsuf Prancis Auguste Comte. Forester menolak gagasan yang meredusir
pengalaman manusia pada sekadar bentuk murni hidup alamiah.
Dalam sejarah perkembanggannya
memang manusia tunduk pada hukum-hukum alami, namun kebebasan yang dimiliki
manusia memungkinkan dia menghayati kebebasan dan pertumbuhannya mengatasi
sekadar tuntutan fisik dan psikis semata. Manusia tidak semata-mata taat pada
aturan alamiah. Melainkan kebebasan itu dihayati dalam tata aturan yang
sifatnya mengatasi individu, dalam tata aturan nilai-nilai moral. Pedoman nilai
merupakan kriteria yang menentukan kualitas tindakan manusia di dunia.
Dinamika pemahaman pendidikan
karakter berproses melalui tiga momen: momen historis, momen reflektif, dan
momen praktis. Momen historis, yaitu usaha merefleksikakan pengalaman manusia
yang bergulat dalam menghidupi konsep dan praksis pendidikan khususnya dalam
jatuh bangun mengembangkan pendidikan karakter bagi anak didik sesuai dengan
konteks zamannya. Momen reflektif, sebuah momen yang melalui pemahaman intelektualnya
manusia mencoba mendefinisikan pengalamnnya, mencoba melihat persoalan
metodologis, filosofis, dan prinsispil yang berlaku bagi pendidikan karakter.
Momen praktis, yaitu dengan bekal pemahaman teoritis-konseptual itu, manusia
mencoba menemukan secara efektif agar proyek pendidikan karakter dapat efektif
terlaksana dilaksanakan (Koesoma, 2007:308).
2.4 Ciri Dasar
Pendidikan Karakter
Menururt
Foerster, pencetus pendidikan karakter dan pedagog Jerman, ada empat ciri dasar
dalam pendidikan karakter. Pertama, keteraturan interior di mana setiap
tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap
tindakan. Kedua, koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh
pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut resiko. Koherensi merupakan
dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan
kredibiltas seseorang. Ketiga, otonomi. Di situ sesorang menginternalisasikan
aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilhat
lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak
lain. Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan
seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik dan kesetiaan merupakan dasar
bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.
Kematangan
keempat karakter ini memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju
personalitas. Orang-orang modern sering mencampur adukkan antara individualitas
dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara indepedensi eksterior
dan interior. Karater inilah yang menentukan seorang pribadi dalam segala
tindakannya (Foerster).
2.5
Prinsip Pendidikan Karakter
Di Indonesia, pendidikan karakter
bangsa sebenarnya telah berlangsung lama, jauh sebelum Indonesia merdeka. Ki
Hajar Dewantara sebagai Pahlawan Pendidikan Nasional memiliki pandangan tentang
pendidikan karakter sebagai asas Taman Siswa 1922, dengan tujuh prinsip sebagai
berikut :
1.
Hak
seseorang untuk mengatur diri sendiri
dengan tujuan tertibnya persatuan dalam kehidupan umum.
2.
Pengajaran
berarti mendidik anak agar merdeka batinnya, pikirannya, dan tenaganya.
3.
Pendidikan
harus selaras dengan kehidupan.
4.
Kultur
sendiri yang selaras dengan kodrat harus dapat memberi kedamaian hidup.
5.
Harus
bekerja menurut kekuatan sendiri.
6.
Perlu
hidup dengan berdiri sendiri.
7.
Dengan
tidak terikat, lahir batin dipersiapkan untuk memberikan pelayanan kepada
peserta didik.
Lickona
dkk (2007) menemukan sebelas prinsip agar pendidikan karakter dapat berjalan
efektif. Kesebelas prinsip tersebut sebagai berikut.
1.
Kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai
kinerja pendukungnya sebagai fondasi karakter yang baik.
2.
Defisinikan karakter secara komprehensif yang mencakup
pikiran, perasaan, dan perilaku.
3.
Gunakan pendekatan yang komprehensif, disengaja, dan
proaktif dalam pengembangan karakter.
4.
Ciptakan komunitas sekolah yang penuh perhatian.
5.
Beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan moral.
6.
Buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang
yang menghormati semua peserta didik, mengembangkan karakter, dan membantu
siswa untuk berhasil.
7.
Usahakan mendorong motivasi dari siswa.
8.
Libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran
dan moral yang berbagi tanggung jawab dalam pendidikan karakter dan upaya untuk
mematuhi nilai-nilai inti yang sama yang membimbing pendidikan siswa.
9.
Tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral dan
dukungan jangka panjang bagi inisiatif pendidikan karakter.
10. Libatkan
keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter.
11. Evaluasi
karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidik karakter dan sejauah
mana siswa memanifestasikan karakter yang baik.
2.6
Tujuan Pendidikan Karakter
Tujuan
Pendidikan Karakter adalah untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil
pendidikan yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia
peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang. Melalui pendidikan karakter
diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan
pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi, serta mempersonalisasi
nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku
sehari-hari.
Pada
tingkat institusi pendidikan karakter mengarah pada pembentukan budaya sekolah,
yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan
simbol-simbol yang dipraktekkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat
sekitar sekolah. budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan
citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas.
2.7
Pentingnya Pendidikan Karakter
Karakter
bangsa merupakan aspek penting dari kulitas sumber daya manusia karena kualitas
karakter bangsa menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter yang berkualitas
perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa kritis bagi
pembentukan karakter seseorang. Menurut Freud kegagalan penanaman kepribadia
yang baik di usia dini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya
kelak. Kesuksesan orang tua membimbing anaknya dalam mengatasi konflik
kepribadian di usia dini sangat menentukan kesuksesan anak dalam kehidupan
sosial di masa dewasanya kelak (Erikson, 1968).
Pembentukan karakter harus dilakukan secara sistematis dan
berkesinambungan yang melibatkan aspek “knowledge,
feeling, loving, dan action”.
Pembentukan karakter dapat diibaratkan sebagai pembentukan seseorang menjadi body builder (binaragawan) yang
memerlukan latihan otot-otot akhlak secara terus-menerus agar menjadi kokoh dan
kuat. Sebab, pada dasarnya, anak yang berkarakter rendah adalah anak yang
tingkat perkembangan emosi-sosialnya rendah sehingga anak beresiko atau
berpotensi besar mengalami kesulitan dalam belajar, berinteraksi sosial, dan
tidak mampu mengontrol diri. Mengingat pentingnya penanaman karakter di usia
dini dan mengingat usia prasekolah merupakan masa persiapan untuk sekolah yang
sesungguhnya maka penanaman karakter yang baik di usia prasekolah merupakan hal
yang sangat penting untuk dilakukan.
Thomas Lickona mendefinisikan
orang yang berkarakter sebagai sifat alami seseorang dalam merespon situasi secara
bermoral, yang dimanefastikan dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang
baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain, dan karakter mulia
lainnya.
Menurut Berkowitz (1998),
kebiasan berbuat baik tidak selalu menjamin bahwa manusia yang telah terbiasa
tersebut secara sadar (cognition) menghargai
pentingnya nilai-nilai karakter (valuing).
Misalnya, seseorang yang terbiasa berkata jujur karena takut mendapatkan
hukuman maka bisa saja ia tidak mengerti akan tingginya nilai moral dari
kejujuran itu sendiri. Oleh karena itu, pendidikan karakter memerlukan juga
aspek emosi. Menurut Lickona (1991), komponen ini disebut “desiring the good” atau keinginan untuk berbuat baik.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Pendidikan
karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia
dapat memahami, memperhatikan dan melakukan nila-nilai etika yang inti
(Lickona). Ada delapan belas butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu religius,
jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa
ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi,
bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan,
peduli sosial, dan tanggung jawab. Tujuan Pendidikan Karakter
adalah untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan yang
mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik
secara utuh, terpadu, dan seimbang.
3.2 Saran
Sebaiknya institusi
pendidikan menjadi tempat
yang senantiasa menciptakan
pengalaman bagi siswa untuk membangun dan membentuk karakter unggul, karena
mengingat pentingnya pendidikan karakter demi kemajuan suatu bangsa.
DAFTAR RUJUKAN
Aar. 2011. 18 Nilai dalam
Pendidikan Karakter Bangsa, (Online), (http://www.rumahinspirasi.com/18-nilai-dalam-pendidikan-karakter-bangsa),
diakses 1 Oktober 2013.
Haryanto. 2012. Pengertian
Pendidikan Karakter, (Online), (http://www.belajarpsikologi.com/pengertian-pendidikan-karakter),
diakses 1 Oktober 2013.
Mulyasa,
H.E. 2012. Manajemen Pendidikan Karakter.
Jakarta: Bumi Aksara.
Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan
Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara.