Social Icons

Pages

Sunday, December 1, 2013

pndidikan karakter

penerbit: ridzal eko sopi'i. dkk

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Dampak globalisasi yang terjadi saat ini membawa masyarakat Indonesia melupakan pendidikan karakter. Padahal pendidikan karakter merupakan suatu pondasi bangsa yang sangat penting dan perlu ditanamankan sejak dini kepada anak-anak. Dunia pendidikan telah memberikan porsi yang sangat besar untuk pengetahuan, tetapi melupakan tujuan utama pendidikan, yaitu mengembangkan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan secara simultan dan seimbang. Terpuruknya bangsa Indonesia dewasa ini tidak hanya disebabkan oleh krisis ekonomi, melainkan juga krisis akhlak yang berakar dari kurangnya penanaman pendidikan karakter.
Sistem pendidikan di Indonesia secara umum masih dititikberatkan pada kecerdasan kognitif.  Hal  ini  dapat  dilihat  dari  orientasi  sekolah-sekolah  yang  ada  masih disibukkan  dengan  ujian,  mulai  dari  ujian  mid,  ujian  akhir  hingga  ujian  nasional. Ditambah  latihan-latihan  soal  harian  dan  pekerjaan  rumah  untuk  memecahkan pertanyaan di buku pelajaran yang biasanya tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari para siswa. Saatnya  para  pengambil  kebijakan,  para  pendidik,  orang  tua  dan  masyarakat senantiasa memperkaya  persepsi bahwa ukuran  keberhasilan tidak hanya  dilihat dari prestasi  angka.  Hendaknya  institusi  sekolah  menjadi  tempat  yang  senantiasa menciptakan pengalaman bagi siswa untuk membangun dan membentuk karakter unggul, karena mengingat pentingnya pendidikan karakter demi kemajuan suatu bangsa.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian pendidikan karakter?
2.      Apa saja nilai-nilai pendidikan karakter?
3.      Bagaimana sejarah pemunculan pendidikan karakter?
4.      Apa ciri dasar pendidikan karakter?
5.      Apa prinsip pendidikan karakter?

6.      Apa tujuan dari pendidikan karakter?
7.      Apa pentingnya pendidikan karakter?

1.3  Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui pengertian pendidikan karakter.
2.      Mengetahui nilai-nilai pendidikan karakter.
3.      Mengetahui bagaimana sejarah pemunculan pendidikan karakter.
4.      Mengetahui ciri dasar pendidikan karakter.
5.      Mengetahui prinsip pendidikan karakter.
6.      Mengetahui tujuan dari pendidikan karakter.
7.      Megetahui pentingnya pendidikan karakter.





















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pendidikan Karakter
Pengertian pendidikan karakter menurut para ahli:
1.    Pendidikan Karakter Menurut Thomas Lickona
Thomas Lickona menyatakan bahwa pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan dan melakukan nila-nilai etika yang inti.
2.    Pendidikan Karakter Menurut Suyanto
Suyanto (2009) mendefisinisiakn karakter sebagai cara berpikir dan perilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekrjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara.
3.    Pendidikan karekter menurut kertajaya
Karakter adalah ciri khas yang meiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan mesin yang mendorong bagaimana seseorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu.
4.    Pendidikan karakter menurut kamus psikologi
Menurut kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang dan biasannya berkaitan dengan sifat-sifat yang relative tetap.

2.2 Nilai-Nilai Pendidikan Karakter
Ada delapan belas butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.
a.    Religius
     Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
b.      Jujur
     Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
c.       Toleransi
     Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
d.    Disiplin
     Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
e.    Kerja Keras
     Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
f.     Kreatif
     Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
g.    Mandiri
     Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
h.    Demokratis
     Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
i.      Rasa Ingin Tahu
     Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
j.      Semangat Kebangsaan
     Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
k.    Cinta Tanah Air
     Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
l.      Menghargai Prestasi
     Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
m.    Bersahabat/Komunikatif
     Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
n.    Cinta Damai
     Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
o.    Gemar Membaca
     Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
p.    Peduli Lingkungan
          Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
q.    Peduli Sosial
     Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
r.     Tanggung Jawab
     Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.


2.3 Sejarah Pemunculan Pendidikan Karakter
Istilah karakter dipakai secara khusus dalam konteks pendidikan baru muncul pada akhir abad ke 18, dan untuk pertama kalinya dicetuskan oleh pedadog Jerman F.W.Foerster. Terminologi ini mengacu pada sebuah pendekatan idealis spiritualis dalam pendidikan juga dikenal dengan teori pendidikan normatif. Yang menjadi prioritas adalah nilai-nilai transenden yang dipercaya sebagai motor penggerak sejarah, baik bagi individu maupun bagi sebuah perubahan sosial.
Namun, sebenarnya pendidikan karakter telah lama terjadi bagian inti sejarah baik pendidikan itu sendiri. Misalnya, dalam cita-cita Paideia Yunani dan Humanitas Romawi. Pendekatan idealis dalam masyarakat modern memuncak dalam ide tentang kesadaran Roh Hegelian. Perkembangan ini pada gilirannya mungukuhkan dialektika sebagai sebuah bagian integral dari pendekatan pendidikan karakter.
Lahirnya pendidikan karakter bisa dikatakan sebagai sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme yang di pelopori oleh filsuf Prancis Auguste Comte. Forester menolak gagasan yang meredusir pengalaman manusia pada sekadar bentuk murni hidup alamiah.
Dalam sejarah perkembanggannya memang manusia tunduk pada hukum-hukum alami, namun kebebasan yang dimiliki manusia memungkinkan dia menghayati kebebasan dan pertumbuhannya mengatasi sekadar tuntutan fisik dan psikis semata. Manusia tidak semata-mata taat pada aturan alamiah. Melainkan kebebasan itu dihayati dalam tata aturan yang sifatnya mengatasi individu, dalam tata aturan nilai-nilai moral. Pedoman nilai merupakan kriteria yang menentukan kualitas tindakan manusia di dunia.
Dinamika pemahaman pendidikan karakter berproses melalui tiga momen: momen historis, momen reflektif, dan momen praktis. Momen historis, yaitu usaha merefleksikakan pengalaman manusia yang bergulat dalam menghidupi konsep dan praksis pendidikan khususnya dalam jatuh bangun mengembangkan pendidikan karakter bagi anak didik sesuai dengan konteks zamannya. Momen reflektif, sebuah momen yang melalui pemahaman intelektualnya manusia mencoba mendefinisikan pengalamnnya, mencoba melihat persoalan metodologis, filosofis, dan prinsispil yang berlaku bagi pendidikan karakter. Momen praktis, yaitu dengan bekal pemahaman teoritis-konseptual itu, manusia mencoba menemukan secara efektif agar proyek pendidikan karakter dapat efektif terlaksana dilaksanakan (Koesoma, 2007:308).

2.4 Ciri Dasar Pendidikan Karakter
Menururt Foerster, pencetus pendidikan karakter dan pedagog Jerman, ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter. Pertama, keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. Kedua, koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi  baru atau takut resiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibiltas seseorang. Ketiga, otonomi. Di situ sesorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilhat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain. Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.
Kematangan keempat karakter ini memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. Orang-orang modern sering mencampur adukkan antara individualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara indepedensi eksterior dan interior. Karater inilah yang menentukan seorang pribadi dalam segala tindakannya (Foerster).

2.5 Prinsip Pendidikan Karakter
Di Indonesia, pendidikan karakter bangsa sebenarnya telah berlangsung lama, jauh sebelum Indonesia merdeka. Ki Hajar Dewantara sebagai Pahlawan Pendidikan Nasional memiliki pandangan tentang pendidikan karakter sebagai asas Taman Siswa 1922, dengan tujuh prinsip sebagai berikut :
1.      Hak seseorang untuk mengatur  diri sendiri dengan tujuan tertibnya persatuan dalam kehidupan umum.
2.      Pengajaran berarti mendidik anak agar merdeka batinnya, pikirannya, dan tenaganya.
3.      Pendidikan harus selaras dengan kehidupan.
4.      Kultur sendiri yang selaras dengan kodrat harus dapat memberi kedamaian hidup.
5.      Harus bekerja menurut kekuatan sendiri.
6.      Perlu hidup dengan berdiri sendiri.
7.      Dengan tidak terikat, lahir batin dipersiapkan untuk memberikan pelayanan kepada peserta didik.
Lickona dkk (2007) menemukan sebelas prinsip agar pendidikan karakter dapat berjalan efektif. Kesebelas prinsip tersebut sebagai berikut.
1.        Kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai kinerja pendukungnya sebagai fondasi karakter yang baik.
2.        Defisinikan karakter secara komprehensif yang mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku.
3.        Gunakan pendekatan yang komprehensif, disengaja, dan proaktif dalam pengembangan karakter.
4.        Ciptakan komunitas sekolah yang penuh perhatian.
5.        Beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan moral.
6.        Buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang yang menghormati semua peserta didik, mengembangkan karakter, dan membantu siswa untuk berhasil.
7.        Usahakan mendorong motivasi dari siswa.
8.        Libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan moral yang berbagi tanggung jawab dalam pendidikan karakter dan upaya untuk mematuhi nilai-nilai inti yang sama yang membimbing pendidikan siswa.
9.        Tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral dan dukungan jangka panjang bagi inisiatif pendidikan karakter.
10.    Libatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter.
11.    Evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidik karakter dan sejauah mana siswa memanifestasikan karakter yang baik.

2.6 Tujuan Pendidikan Karakter
Tujuan Pendidikan Karakter adalah untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi, serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.
Pada tingkat institusi pendidikan karakter mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktekkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas.

2.7 Pentingnya Pendidikan Karakter
Karakter bangsa merupakan aspek penting dari kulitas sumber daya manusia karena kualitas karakter bangsa menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Menurut Freud kegagalan penanaman kepribadia yang baik di usia dini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak. Kesuksesan orang tua membimbing anaknya dalam mengatasi konflik kepribadian di usia dini sangat menentukan kesuksesan anak dalam kehidupan sosial di masa dewasanya kelak (Erikson, 1968).
Pembentukan karakter  harus dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan yang melibatkan aspek “knowledge, feeling, loving, dan action”. Pembentukan karakter dapat diibaratkan sebagai pembentukan seseorang menjadi body builder (binaragawan) yang memerlukan latihan otot-otot akhlak secara terus-menerus agar menjadi kokoh dan kuat. Sebab, pada dasarnya, anak yang berkarakter rendah adalah anak yang tingkat perkembangan emosi-sosialnya rendah sehingga anak beresiko atau berpotensi besar mengalami kesulitan dalam belajar, berinteraksi sosial, dan tidak mampu mengontrol diri. Mengingat pentingnya penanaman karakter di usia dini dan mengingat usia prasekolah merupakan masa persiapan untuk sekolah yang sesungguhnya maka penanaman karakter yang baik di usia prasekolah merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan.
Thomas Lickona mendefinisikan orang yang berkarakter sebagai sifat alami seseorang dalam merespon situasi secara bermoral, yang dimanefastikan dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain, dan karakter mulia lainnya.
Menurut Berkowitz (1998), kebiasan berbuat baik tidak selalu menjamin bahwa manusia yang telah terbiasa tersebut secara sadar (cognition) menghargai pentingnya nilai-nilai karakter (valuing). Misalnya, seseorang yang terbiasa berkata jujur karena takut mendapatkan hukuman maka bisa saja ia tidak mengerti akan tingginya nilai moral dari kejujuran itu sendiri. Oleh karena itu, pendidikan karakter memerlukan juga aspek emosi. Menurut Lickona (1991), komponen ini disebut “desiring the good” atau keinginan untuk berbuat baik.










BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan dan melakukan nila-nilai etika yang inti (Lickona). Ada delapan belas butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Tujuan Pendidikan Karakter adalah untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang.

3.2 Saran
            Sebaiknya  institusi  pendidikan  menjadi  tempat  yang  senantiasa menciptakan pengalaman bagi siswa untuk membangun dan membentuk karakter unggul, karena mengingat pentingnya pendidikan karakter demi kemajuan suatu bangsa.












DAFTAR RUJUKAN

Aar. 2011. 18 Nilai dalam Pendidikan Karakter Bangsa, (Online), (http://www.rumahinspirasi.com/18-nilai-dalam-pendidikan-karakter-bangsa), diakses 1 Oktober 2013.
Haryanto. 2012. Pengertian Pendidikan Karakter, (Online), (http://www.belajarpsikologi.com/pengertian-pendidikan-karakter), diakses 1 Oktober 2013.
Mulyasa, H.E. 2012. Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: Bumi Aksara.
Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara.












Sunday, November 24, 2013

permasalahan pendidikan di indonesia


penerbit Ridzal eko sopi'i .dkk,
BAB I
PENDAHULUAN
          LATAR BELAKANG
Seperti yang sudah kita ketahui bahwa pendidikan di Indonesia masih sering bermasalah. Pada dasarnya pendidikan di Indonesia belum sesuai dan ketertetinggalan di dalam mutu. Terlebih lagi dalam memasuki era globlalisasi yang semakin pesat sekarang ini serta perkembangan iptek yang semakin maju.
Masalah pendidikan di Indonesia muncul karena rendahnya kualitas pendidikan itu sendiri. Oleh karenanya kita sebagai masyarakat Indonesia harus dapat membantu meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia tercinta ini. Makalah ini memuat beberapa hal megenai permasalah pendidikan di Indonesia, disertai pula penyebab-penyebab dari permasalah tersebut. Bukan hanya itu saja, dalam makalah ini juga berisi tentang alternatif solusi dari permasalahan tersebut.

     RUMUSAN MASALAH 
      Bagaimanakah permasalahan pendidikan di Indonesia ?
     Apa saja jenis permasalahan pendidikan di Indonesia ?
     Bagaimana alternatif solusi permasalah pendidikan di Indonesia?

     TUJUAN
      Mengetahui pendidikan di Indonesia
      Mendiskripsikan beberapa jenis masalah pendidikan di Indonesia
      Mendiskripsikan beberapa faktor yang mempengaruhi permasalahan pendidikan di Indonesia
      Mengetahui alternatif solusi permasalahan pendidikan di Indonesi





BAB II
PEMBAHASAN

A.     Permasalahan Pendidikan di Indonesia
1.      Pendidikan di Indonesia
Kualitas pendidikan di Indonesia semakin memburuk. Hal ini terbukti dari kualitas guru, sarana belajar, dan murid-muridnya. Guru-guru tentuya punya harapan terpendam yang tidak dapat mereka sampaikan kepada siswanya. Memang, guru-guru saat ini kurang kompeten. Banyak orang yang menjadi guru karena tidak diterima di jurusan lain atau kekurangan dana. Kecuali guru-guru lama yang sudah lama mendedikasikan dirinya menjadi guru. Selain berpengalaman mengajar murid, mereka memiliki pengalaman yang dalam mengenai pelajaran yang mereka ajarkan. Belum lagi masalah gaji guru. Jika fenomena ini dibiarkan berlanjut, tidak lama lagi pendidikan di Indonesia akan hancur mengingat banyak guru-guru berpengalaman yang pensiun.
2.      Jenis Permasalahan Pendidikan di Indonesia
Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia adalah disebabkan oleh hal-hal berikut yaitu :
a.      Efektifitas Pendidikan di Indonesia
Pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Efektifitas pendidikan di Indonesia sangat rendah. Setelah praktisi pendidikan melakukan penelitian dan survey ke lapangan, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelm kegiatan pembelajaran dilaksanakan.
b.      Efisiensi Pengajaran di Indonesia
Efisien adalah bagaimana menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan proses yang lebih ‘murah’. Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik jika kita memperhitungkan untuk memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses yang baik pula efisiennya proses pendidikan di Indonesia kurang  Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan. Selain masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, masalah lainnya adalah waktu pengajaran.
Dengan survey lapangan, dapat kita lihat bahwa pendidikan tatap muka di Indonesia relative lebih lama jika dibandingkan negara lain. Dalam pendidikan formal di sekolah menengah misalnya, ada sekolah yang jadwal pengajarnnya perhari dimulai dari pukul 07.00 dan diakhiri sampai pukul 16.00.. Hal tersebut jelas tidak efisien, karena ketika kami amati lagi, peserta didik yang mengikuti proses pendidikan formal yang menghabiskan banyak waktu tersebut, banyak peserta didik yang mengikuti lembaga pendidikan informal lain seperti les akademis, bahasa, dan sebagainya. Jelas juga terlihat, bahwa proses pendidikan yang lama tersebut tidak efektif juga, karena peserta didik akhirnya mengikuti pendidikan informal untuk melengkapi pendidikan formal yang dinilai kurang.Konsep efisiensi selalu dikaitkan dengan efektivitas. Efektivitas merupakan bagian dari konsep efisiensi karena tingkat efektivitas berkaitan erat dengan pencapaian tujuan.
Program pendidikan yang efisien adalah program yang mampu menciptakan keseimbangan antara penyediaan dan kebutuhan akan sumber-sumber pendidikan sehingga upaya pencapaian tujuan tidak mengalami hambatan.
c.       Standardisasi Pendidikan di Indonesia
Seperti yang kita lihat sekarang ini, standar dan kompetensi dalam pendidikan formal maupun informal terlihat hanya keranjingan terhadap standar dan kompetensi.
Kualitas pendidikan diukur oleh standard an kompetensi di dalam berbagai versi, demikian pula sehingga dibentuk badan-badan baru untuk melaksanakan standardisasi dan kompetensi tersebut seperti Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP). Berikut ini akan dipaparkan pula secara khusus beberapa masalah yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.
·        Rendahnya Kualitas Sarana Fisik
Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.
·        Rendahnya Kualitas Guru
Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya.
·        Rendahnya Kesejahteraan Guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Dengan adanya UU Guru dan Dosen, barangkali kesejahteraan guru dan dosen adanya unsur pengusaha. Dalam pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas dan memadai, antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan profesi, dan/atau tunjangan khusus serta penghasilan lain yang berkaitan dengan tugasnya. Mereka yang diangkat pemkot/pemkab bagi daerah khusus juga berhak atas rumah dinas. Dilingkungan pendidikan swasta, masalah kesejahteraan masih sulit mencapai taraf ideal.
d.      Rendahnya Prestasi Siswa
Rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan.
e.       Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan
Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.
f.        Rendahnya Relevansi Pendidikan dengan Kebutuhan
Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.
g.      Mahalnya Biaya Pendidikan
Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan.Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan (PNS) agak lumayan. Pasal 10 UU itu sudah memberikan jaminan kelayakan hidup.
    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan
Faktor-faktor yang mempengaruhi permasalahan pendidikan yaitu:
1.      Perkembangan iptek dan seni
2.      Laju pertumbuhan penduduk
3.      Aspirasi masyarakat
4.      Keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan
1.      Perkemabangan iptek dan seni
a.       Pekembangan iptek
Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dengan iptek. Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta, dan teknologi adalah penerapan yang direncan akan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Sebagai contoh betapa eratnya hubungan antara pendidikan dengan iptek itu, misalnya sering suatu teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran perubahan persyaratan kerja, dan mungkin juga penguraian jumlah tenaga kerja, kebutuhan bahan-bahan baru, sistem pelayanan baru, sampai kepada berkembangnya gaya hidup baru, kondisi tersebut minimal dapat mempengaruhi perubahan isi pendidikan dan metodenya, bahkan mungkin rumusan baru tunjangan pendidikan, otomatis juga sarana laboratorium ketenangan.
Contoh di atas memberikan gambaran pengaruh tidak langsung iptek terhadap sistem pendidikan. Hampir setiap inovasi mengundang masalah. Pertama, karena belum ada jaminan bahwa inovasi itu pasti membawa hasil. Kedua, pada dasarnya orang merasa ragu dan gusar jika menghadapi hal baru. Masalahnya ialah bagaimana cara memperkenalkan suatu inovasi agar orang menerimanya.
b.      Perkembangan seni
Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Dilihat dari segi tujuan pendidikanya itu terbentuknya manusia seutuhnya, aktivitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan dominan afektif khususnyaemosi yang positif dan konstruktif serta keterampilan. Disinilah timbulnya masalah pendidikan kesenian yang mempunyai fungsi begitu penting tetapi di sekolah-sekolah saat ini menduduki kelas dua. Pendidikan kesenian baru terlayani setelah program studi yang lain terpenuhi pelayanannya. Lagi pula sarana penunjang umumnya tidak tersedia secara memadai karena mahal.
2.      Laju pertumbuhan penduduk
Masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada dua hal, yaitu:
·         Pertambahan penduduk
·         Penyebaran penduduk
Dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka penyediaan prasarana dan sarana pendidikan beserta komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus ditambah. Ini berarti beban pembangunan nasional menjadi bertambah. Pertambahan penduduk yang dibarengi dengan meningkatnya usia rata-rata dan penurunan angka kematian, mengakibatkan berubahnya struktur kependudukan, yaitu proporsi penduduk usia sekolah lanjutan, angkatan kerja, dan penduduk usia tua meningkat berkat kemajuan bidang gizi dan kesehatan. Sebagai akibat lanjutan, permintaan untuk lanjut keperguruan tinggi juga meningkat, khusus untuk penduduk usia tua yang jumlahnya meningkat perlu disediakan pendidikan nonformal.
3.      Aspirasi masyarakat
Dalam dua dasawarsa terakhir ini aspirasi masyarakat dalam banyak hal meningkat, khususnya aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat, aspirasi terhadap pekerjaan, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Orang mulai melihat bahwa untuk dapat hidup yang lebih layak dan sehat harus ada pekerjaan tetap yang menopang, dan pendidikan memberi jaminan untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap itu. Pendidikan dianggap memberi jaminan bagi peningkat taraf hidup dan pendakian di tangga sosial.
Namun demikian tidaklah berarti bahwa aspirasi terhadap pendidikan harus diredam, justru sebaliknya harus tetap dibangktikan dan ditingkatkan, utamanya pada masyarakat yang belum maju dan masyarakat di daerah terpencil, sebab aspirasi menjadi motor penggerak roda kemajuan.
4.      Keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan
Keterbelakangan budaya adalah suatu istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya. Perubahan budaya terjadi karena adanya penemuan baru dari luar maupun dari dalam lingkungan masyarakat sendiri.Yang menjadi masalah ialah bahwa kelompok masyarakat yang terkebelakang kebudayaannya tidak ikut berperan serta dalam pembangunan, sebab mereka kurang memiliki dorongan untuk maju. Jadi inti permasalahannya ialah menyadarkan mereka akan ketertinggalannya, dan bagaimana cara menyediakan sarana kehidupan, dan bagaimana sistem pendidikan dapat melibatkan mereka.
     Pemecahan Masalah Pendidikan
Masalah pendidikan masing-masing dapat dikatakan teratasi jika pendidikan:
      Dapat menyediakan kesempatan pemerataan belajar, artinya semua warga negara yang butuh pendidikan dapat ditampung dalam suatu satuan pendidikan
      Dapat mencapai hasil yang bermutu, artinya perencanaan, pemrosesan pendidikan dapat mencapai hasil sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.
     Dapat terlaksana secara efisien, artinya pemrosessan pendidikan sesuai dengan rancangan dan tujuan yang ditulis dalam rancangan.
     Produknya yang bermutu tersebut relevan, artinya hasil pendidikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan.
a.      Pemecahan masalah pemerataan pendidikan
Ada  bebarapa macam solusi dalam pemecahan permasalahan pendidikan yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pemerataan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah yang ditempuh melalui cara konvensional dan cara inovatif.
Cara konvensi antara lain:
·         Membangun gedung sekolah seperti SD dan atau ruangan belajar
·         Membangun gedung sekolah untuk doule shift (sistem pergantian pagi dan sore)
Cara inovatif antara lain:
·         Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau Inpact System(Instructional by Management by Parent, Community and Teacher). Sistem tersebut dirintis di Solo dan di diseminasikan kebeberapa provinsi.
·         SD kecil pada daerah terpencil
·         Sistem guru kunjung
·         Kejar paket A dan B
b.      Pemecahan masalah mutu pendidikan
Upaya pemecahan masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat fisik dan perangkat lunak, personalia, dan manajemen sebagai berikut:
·         Seleksi yang lebih rasional terhadap masukan mentah, khususnya untuk SLTA dan PT.
·         Pengembangan kemampuan tenaga kependidikan melalui study lanjut, misalnya berupa pelatihan, penataran, seminar, kegiatan-kegiatan kelompok study  dan lain-lain.
·         Penyempurnaan kurikulum, misalnya dengan memberi materi yang lebih esensial dan mengandung muatan lokal, metode yang menantang dan menggairahkan belajar, dan melaksakan evaluasi.
·         Pengembangan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tentram untuk belajar.
·         Peningkatan administrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran.
c.       Pemecahan masalah efisiensi pendidikan
Masalah efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikan mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaanya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Jika terjadi yang sebaliknya, efisiensinya berarti rendah.
d.      Pemecahan masalah relevansi pendidikan
Telah dijelaskan pada bagian terdahulu bahwa tugas pendidikan ialah menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Masalah relevansi pendidikan mencakup sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan iuran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan. Artinya, hasil pendidikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Banyak permasalahan-permasalahan yang terjadi di Indonesia salah satunya adalah yang berhubungan dengan pembangunan. Misi pendidikan ialah menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan, karena itu pendidikan selalu mengahadapi masalah. Sebabnya karena pembangunan sendiri selalu mengikuti tuntutan zaman yang selalu berubah.
Oleh karena itu agar masalah-masalah pendidikan dapat dipecahkan, maka diperlikan rumusan tentang masalah-masalah pendidikan yang bersifat pokok yang dapat dijadikan acuan bagi pemecahan masalah-masalah praqktis yang timbul dalam praktek pendidikan di lapangan.

Saran
Permasalahan-permasalan pendidikan yang terjadi disekitar kita diperlukan adanya perhatian yang khusus. Salah satunya yang berkenaan dengan pembangunan. Maka dari tinjauan diperlukan adanya peran-peran khusus pemerintah untuk menangani hal tersebut.


DAFTAR RUJUKAN:
Tirtaharja, umar dan la sulo, S.L.2005.PENGANTAR PENDIDIKAN. Jakarta: PT. RINEKA CIPTA
http;//meilanikasim.wordpress.com/2009/03/08/makalah masalah pendidikan di indonesia

 

Sample text

Sample Text

Sample Text